October 15, 2013

Drama Singkat B.Indonesia

Haloo~ Saya ingin bagiin sebuah naksah drama B.Indonesia enam orang dengan tema keamanan lingkungan gitu (sepertinya hanya menyerempet sedikit #plak). Maaf kalau tidak rapi, saya sibuk :p

Cekitdot~

Sebelum baca, harap tinggalkan komentar ya!



Angin Mendengar, Langit pun Melihat
 By : Wulandari Shabrina Putri 


Cast : Doni = yang di gunjing (lk)
          Mbok Jum = penjual sayur (pr)
          Bu Tina = pengunjing (pr)
          Pak Dodo = suami bu Tina (lk)
          Pak Joko = ketua RW (lk)
          Susan = penduduk lain (pr)

(SCENE 1)
            Mentari pagi bersinar dengan cerah, secerah senyum Doni. Dengan langkah yang semangat, Doni berjalan menuju gerobak Mbok Jum yang sudah ada pembeli yang membeli barang-barang yang dibutuhkan mereka.

Doni : (senyum ke para pembeli) Selamat pagi, Bu Susan, Bu Tina, Mbok Jum.
Mbok Jum : Pagi, Don. Mau beli apa?
Doni : (celingukan) Mbok, tempe ada?
Bu Susan : (tersenyum ramah) Sudah habis tuh, Don.
Mbok Jum: Iya, Don. Tempe sama tahu sudah habis. Tadi ada pembeli dari kampung sebelah, dia belinya borongan.
Doni : (kecewa) Yah, mau bagaimana lagi. Maaf ya, mbok, saya tidak jadi beli. Terima kasih. (pergi)
Bu Tina : Aduh kasihan ya Si Doni itu. Tiap hari kerjaannya beli tempeee aja. Emangnya ga bosan tuh? Mana asal usulnya ga jelas.  
Bu Susan : Yah, dia bisanya cuma beli itu, apa boleh buat?
Bu Tina : Miskin banget sih.
Mbok Jum : Tapi benar apa yang dikatakan bu Susan. Lagipula tempe itu cukup bagus untuk pertumbuhan.
Bu Tina : Tempe kan ada formalinnya. (tenang)
Mbok Jum : (marah)  Jadi anda ingin mengatakan bahwa tempe yang saya jual berformalin? Begitu?!
Bu Tina : (sewot) Loh? Kenapa situ marah? Saya kan tidak bilang tempenya si mbok.
Mbok Jum : Tapi secara tidak langsung anda mengatakan kalau saya juga menjual tempe berformalin! Benar kan Bu Susan?
Bu Susan: (takut-takut) Menurut saya... i-iya.
Bu Tina : (tenang) Alah mbok, kalau mbok memang menjual tempe formalin, ga usah takut. Kan ga ada orang yang tahu kecuali mbok atau kita.
Mbok Jum : Tapi saya tidak pernah menjual tempe formalin!
Bu Tina : (ikutan emosi) Kalau jual itu, ngaku aja mbok!
Mbok Jum : Saya tidak akan mengakui apa yang tidak saya perbuat.
Bu Tina : Ya sudah! Saya tidak jadi beli ini! Omong kosong! (pergi sambil marah-marah)
Bu Susan : Anu... mbok. Saya mau bayar ini. Rp. 20.000 kan? (menyerahkan selembar uang) Saya percaya dengan mbok.
Mbok Jum : Terima kasih ya, bu. Semoga amal ibu dibalas oleh Gusti Allah.
Bu Susan : Sama-sama ya mbok. (pergi)

(SCENE 2)

            Doni langsung mengarahkan kakinya menuju kontrakannya. Begitu sampai, dengan segera Doni mengganti pakaian hariannya dengan pakaian kerja lalu ia berangkat kerja. Saat di tengah jalan, Doni bertemu dengan Pak Dodo dan Pak Joko.

Doni : Pagi Pak Dodo, Pak RW!
Pak RW : (sedikit terkejut) Eh, Doni! Mau kemana?
Doni : Mau pergi kerja, Pak! (diam sebentar) Pak, saya sudah hampir telat, saya pergi dulu ya, Pak. (diam)
Pak RW : Tunggu, Don.
Doni : (berhenti) ya, Pak?
Pak RW : Nanti kamu bisa ‘kan bantu saya benarkan mesin pompa di masjid?
Doni : Iya. Tapi setelah saya pulang kerja Pak. Sekitar jam empat sore.
Pak RW : Baiklah.
Pak Dodo : Kenapa Pak RW mau mempercayakan mesin pompa itu ke Doni? Kalau makin rusak bagaimana pak?
Pak RW : (menerawang) karena saya percaya padanya
Pak Dodo : Maksud Bapak? Lagipula kenapa percaya pada si Doni itu? Udah asal usul tidak jelas, pekerjaannya juga ga jelas
Pak RW : saya percaya padanya.
Pak Dodo : (kesal) terserah bapaklah.
Pak RW : Saya tahu kok kalau si Doni itu anak yang baik, terpancar dari wajah dan perkataannya.
Pak Dodo : Pak, orang seperti itu dimana-mana banyak sekarang pak. Sampul bisa aja bagus pak, isi belum tentu.
Pak RW : Hus, tak baik membicarakan orang, lebih baik lanjutkan topik kita tadi. (jalan)
Pak Dodo : Eh, iya pak. Ayo silahkan. (jalan)

(SCENE 3)
            Tak terasa matahari telah berada di ufuk barat. Doni telah pulang dari tempat kerjanya dan langsung menuju mesjid untuk memperbaiki mesin pompa.

Pak RW : Don, ini mesin pompa yang rusak itu (nunjuk pompa air)
Doni : Oh, ini pak? Baiklah, saya periksa dulu kerusakannya. (utak atik barang). Setelah saya cek, ternyata kerusakannya ada di mesinnya betul, Pak.
Pak RW : Benarkah?
Doni : Iya, Pak. Ada sesuatu yang tersumbat disana, jadi airnya tidak naik.
Pak RW : Kamu perbaiki ya. Bapak tinggal dulu, tidak apa kan?
Doni : Ya, Pak. 

            Tinggal lah Doni sendiri di sana memperbaiki mesin pompa. Tak lama kemudian, lewatlah sepasang suami istri, Bu Tina dan Pak Dodo.

Bu Tina : Eh, Pak, itu si Doni kan? Ngapain dia disana?
Pak Dodo : Eh iya, Bu. Oh kalau tidak salah si Doni itu memperbaiki mesin masjid.
Bu Tina : Kok Doni sih yang kerjain, Pak. Bisa-bisa makin rusak tuh mesinnya.
Pak Dodo : Ya... Bapak ndak tahu. Pak RW pagi-pagi udah tawarin Doni itu, bukan tawarin bapak atau yang lainnya yang jelas lebih berpengalaman.
Bu Tina : Ibu ndak percaya sama Doni itu. Ga suka juga.
Pak Dodo : Bapak juga, Bu.
Bu Tina : Pak, gimana kalau kita usir saja Doni dari sini?
Pak Dodo : (terkejut) Gimana caranya, Bu?
Bu Tina : (bisik-bisik)
Pak Dodo : Ide yang bagus, Bu!
Bu Tina : Ayo kita lakukan, Pak le!

            Bu Tina dan Pak Dodo pun memulai rencana mereka. Mereka mengambil sebuah tape radio yang ada di atas meja. Sepasang suami istri itu melakukannya diam-diam, sehingga membuat Doni yang ada di dekat mesjid tidak menyadarinya. Tanpa mereka semua sadari, isi kotak infaq yang ada di sana telah raib.

Pak RW : Don, sudah selesai perbaikinya?
Doni : (sedikit terkejut) Eh, udah, Pak. Tinggal di tes aja.
Pak RW : Baiklah, bapak colokin ya. (pergi)

            Pak RW pun mencolokan colokan mesin pompa air, namun ia kaget sekali saat melihat kotak infaq kosong dan tape radio tidak ada di sana.

Pak RW : Astaghfirullah!
Doni : (terkejut lalu berlari ke tempat Pak RW) Ada apa pak?!
Pak RW : Uang di kotak infaq dan tape hilang! (menunjuk tempat barang yang hilang)
Doni : Ayo kita kejar malingnya, Pak! (lari)

(SCENE 4)
            Kejadian hilangnya tape mesjid itu membuat heboh warga. Beberapa warga berkumpul di sekitar mesjid. Warga desa disana hanya mengetahui kalau tape saja yang hilang, sedangkan untuk uang infaq tidak. Hanya Pak RW, Doni, dan beberapa pengurus mesjid yang mengetahuinya.

Pak Dodo : Sudah ketemu malingnya, Pak?
Pak RW : (tertunduk lesu) Belum.
Pak Dodo : Kira-kira yang ada di sekitar mesjid siapa saja, Pak? Bisa saja kan mereka yang ada di mesjid yang maling.
Pak RW : Memang saat itu yang ada di mesjid hanya Doni. Tapi, tidak mungkin kan yang maling itu Doni.
Bu Tina : Memang bapak mengawasi Doni terus selama pekerjaannya?
Pak RW : Tidak. Saya yakin, bukan Doni yang mencuri.
Doni : Ya Allah, Bu, Pak, saya tidak pernah mencuri!
Mbok Jum : Iya. Si mbok juga yakin kalau Doni itu ndak mencuri.
Bu Susan : Benar apa yang dikatakan Mbok Jum itu, Bu Tina.
Pak Dodo : (keberatan) Maling mana ada yang mengaku!
Bu Tina : Apa jangan-jangan... Mbok Jum dengan Bu Susan bersekongkol ya dengan Doni?!
Mbok Jum : (marah) Bu Tina, jangan asal nuduh ya, saya tidak pernah mencuri! Itu perbuatan keji!
Doni : (suara meninggi) Sudah Bu, Pak! Jangan menuduh yang tidak ada bukti!
Bu Susan : Bu Tina, Pak Dodo, kenapa anda ngotot sekali kalau yang maling adalah... Doni?
Pak Dodo : (gugup) K-karena, kami melihat Doni lagi membawa tape! Ya Doni tadi membawa tape!
Doni : (keberatan) Saya tidak pernah melakukan itu, Pak!
Bu Tina : Udah, kamu ngaku aja, Don..
Mbok Jum : Bu Tina! Doni kan sudah bilang kalau dia tidak–
Pak RW : (memotong pembicaraan) Sudah, sudah! Jangan saling menuduh seperti ini! Doni, apa benar apa yang dikatakan mereka?
Doni : Tidak, Pak!
Pak RW : Nah, Pak Dodo, jam berapa bapak dan ibu melihat Doni mengambil tape?
Bu Tina : Sekitar jam lima, Pak... Tunggu, bapak mencurigai kami?!
Pak RW : Tergantung. Bolehkah saya menggeledah rumah bapak?
Pak Dodo : (semakin gugup) T-tidak boleh seperti itu lah, Pak!
Bu Susan : Geledah saja rumah mereka, Pak RW. Kalau mereka tidak mau, berarti sudah pasti mereka pelakunya. Terlebih kalau ada tape di sana.
Mbok Jum : Benar, Pak! Geledah aja! Lalu panggil polisi!
Bu Tina : (takut-takut) Anu, Pak.... Sebenarnya...
Pak Dodo : (marah sambil menatap Bu Tina) IBU!
Bu Tina : Sebenarnya kami yang mengambil tape  itu, Pak! Tolong, jangan laporkan kami ke polisi pak!
Pak Dodo : (marah) IBU!
Pak RW : (menghela napas) Baiklah, jangan lakukan ini lagi, atau saya dan warga benar-benar akan memanggil polisi.
Doni : Benar kan, bukan saya yang mencuri!
Bu Tina : Makasih, Pak!
Mbok Jum : (bergumam) Akhirnya Pak Dodo dan Bu Tina mengaku juga.
Bu Susan : Nah, Pak RW, masalah tape sudah selesai. Bagaimana dengan masalah uang infaq yang hilang?
Mbok Jum : (bingung) Loh, bukannya yang dihilang hanya tape saja ya?
Bu Susan : (kaget) Eh?
Pak RW : (terkejut) Dari mana Bu Susan tahu kalau uang infaq juga hilang?
Bu Susan : (gugup) I-itu...
Doni : (curiga) Apa... Bu Susan yang mengambil duit infaq ya?
Bu Susan : B-Bukan! I-itu fitnah! Mereka yang mengambil! (menunjuk Pak Dodo dan Bu Tina).
Pak Dodo : Jangan asal tuduh ya! Situ tuh yang ngambil duit!
Pak RW : Bu Susan, anda tahu dari mana kalau duit infaq juga hilang? Info tentang itu hanya saya dan beberapa orang pengurus mesjid yang mengetahuinya.
Bu Susan : (takut, menggigil) I-Itu... Tidak. Bukan saya pencurinya!
Mbok Jum : Pak RW, s-sebenarnya, s-saya melihat Bu Susan mengambil uang dari kotak... Begitu pula dengan saya melihat Pak Dodo dan Bu Tina mengambil tape...
Bu Susan : (terkejut) TIDAK! ITU TIDAK BENAR!
Pak RW : Benarkah mbok?
Mbok Jum : Benar pak. Untuk apa saya bohong. Lagipula angin ini mendengar, langit pun juga melihat, Pak, begitu pula dengan Gusti Allah.
Bu Susan : (Ketakutan)
Pak RW : Baiklah, Bu Susan, ayo ikut saya ke balai desa, biar warga yang menentukan nasib anda.
Bu Susan : Tidak! Saya tidak mau!
Mbok Jum : Syukur ya, Don. (menatap Doni)
Doni : I-iya, Mbok. (menggaruk kepala)
Pak RW : Doni, bantu saya bawa bawa Bu Susan ke balai desa! (menggiring Bu Susan)
Doni : Siap, Pak! (membantu Pak RW)
           
Akhirnya, pencuri tape dan uang infaq berhasil ditemukan. Bu Susan yang menjadi tersangka pun akhirnya diadili oleh warga desa. Akhirnya, keamanan desa bisa terjaga kembali. Ingatlah, apapun yang kita lakukan akan diketahui, karena angin mendengar, langit pun mengetahui. Tetap jagalah keamanan disekitar, baik lingkungan rumah, masyarakat maupun negara Indonesia ini.

-END-


http://putputput-lalala.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment