Cekitdot~
Sebelum baca, harap tinggalkan komentar ya!
Angin Mendengar, Langit pun Melihat
By : Wulandari Shabrina Putri
Cast :
Doni = yang di gunjing (lk)
Mbok Jum = penjual sayur (pr)
Bu Tina = pengunjing (pr)
Pak Dodo = suami bu Tina (lk)
Pak Joko = ketua RW (lk)
Susan = penduduk lain (pr)
(SCENE 1)
Mentari
pagi bersinar dengan cerah, secerah senyum Doni. Dengan langkah yang semangat,
Doni berjalan menuju gerobak Mbok Jum yang sudah ada pembeli yang membeli
barang-barang yang dibutuhkan mereka.
Doni : (senyum ke para pembeli) Selamat pagi,
Bu Susan, Bu Tina, Mbok Jum.
Mbok Jum : Pagi, Don. Mau
beli apa?
Doni : (celingukan) Mbok, tempe ada?
Bu Susan : (tersenyum ramah) Sudah habis tuh, Don.
Mbok Jum: Iya, Don. Tempe
sama tahu sudah habis. Tadi ada pembeli dari kampung sebelah, dia belinya
borongan.
Doni : (kecewa) Yah, mau bagaimana lagi. Maaf
ya, mbok, saya tidak jadi beli. Terima kasih. (pergi)
Bu Tina : Aduh kasihan ya
Si Doni itu. Tiap hari kerjaannya beli tempeee aja. Emangnya ga bosan tuh? Mana
asal usulnya ga jelas.
Bu Susan : Yah, dia
bisanya cuma beli itu, apa boleh buat?
Bu Tina : Miskin banget
sih.
Mbok Jum : Tapi benar apa
yang dikatakan bu Susan. Lagipula tempe itu cukup bagus untuk pertumbuhan.
Bu Tina : Tempe kan ada
formalinnya. (tenang)
Mbok Jum : (marah) Jadi anda ingin mengatakan bahwa tempe yang
saya jual berformalin? Begitu?!
Bu Tina : (sewot) Loh? Kenapa situ marah? Saya kan
tidak bilang tempenya si mbok.
Mbok Jum : Tapi secara
tidak langsung anda mengatakan kalau saya juga menjual tempe berformalin! Benar
kan Bu Susan?
Bu Susan: (takut-takut) Menurut saya... i-iya.
Bu Tina : (tenang) Alah mbok, kalau mbok memang
menjual tempe formalin, ga usah takut. Kan ga ada orang yang tahu kecuali mbok
atau kita.
Mbok Jum : Tapi saya
tidak pernah menjual tempe formalin!
Bu Tina : (ikutan emosi) Kalau jual itu, ngaku aja
mbok!
Mbok Jum : Saya tidak
akan mengakui apa yang tidak saya perbuat.
Bu Tina : Ya sudah! Saya
tidak jadi beli ini! Omong kosong! (pergi
sambil marah-marah)
Bu Susan : Anu... mbok.
Saya mau bayar ini. Rp. 20.000 kan? (menyerahkan
selembar uang) Saya percaya dengan mbok.
Mbok Jum : Terima kasih
ya, bu. Semoga amal ibu dibalas oleh Gusti Allah.
Bu Susan : Sama-sama ya
mbok. (pergi)
(SCENE 2)
Doni
langsung mengarahkan kakinya menuju kontrakannya. Begitu sampai, dengan segera
Doni mengganti pakaian hariannya dengan pakaian kerja lalu ia berangkat kerja.
Saat di tengah jalan, Doni bertemu dengan Pak Dodo dan Pak Joko.
Doni : Pagi Pak Dodo, Pak
RW!
Pak RW : (sedikit terkejut) Eh, Doni! Mau kemana?
Doni : Mau pergi kerja,
Pak! (diam sebentar) Pak, saya sudah
hampir telat, saya pergi dulu ya, Pak. (diam)
Pak RW : Tunggu, Don.
Doni : (berhenti) ya, Pak?
Pak RW : Nanti kamu bisa
‘kan bantu saya benarkan mesin pompa di masjid?
Doni : Iya. Tapi setelah
saya pulang kerja Pak. Sekitar jam empat sore.
Pak RW : Baiklah.
Pak Dodo : Kenapa Pak RW
mau mempercayakan mesin pompa itu ke Doni? Kalau makin rusak bagaimana pak?
Pak RW : (menerawang) karena saya percaya padanya
Pak Dodo : Maksud Bapak?
Lagipula kenapa percaya pada si Doni itu? Udah asal usul tidak jelas,
pekerjaannya juga ga jelas
Pak RW : saya percaya
padanya.
Pak Dodo : (kesal) terserah bapaklah.
Pak RW : Saya tahu kok
kalau si Doni itu anak yang baik, terpancar dari wajah dan perkataannya.
Pak Dodo : Pak, orang
seperti itu dimana-mana banyak sekarang pak. Sampul bisa aja bagus pak, isi
belum tentu.
Pak RW : Hus, tak baik
membicarakan orang, lebih baik lanjutkan topik kita tadi. (jalan)
Pak Dodo : Eh, iya pak.
Ayo silahkan. (jalan)
(SCENE 3)
Tak
terasa matahari telah berada di ufuk barat. Doni telah pulang dari tempat
kerjanya dan langsung menuju mesjid untuk memperbaiki mesin pompa.
Pak RW : Don, ini mesin
pompa yang rusak itu (nunjuk pompa air)
Doni : Oh, ini pak?
Baiklah, saya periksa dulu kerusakannya. (utak
atik barang). Setelah saya cek, ternyata kerusakannya ada di mesinnya
betul, Pak.
Pak RW : Benarkah?
Doni : Iya, Pak. Ada
sesuatu yang tersumbat disana, jadi airnya tidak naik.
Pak RW : Kamu perbaiki
ya. Bapak tinggal dulu, tidak apa kan?
Doni : Ya, Pak.
Tinggal
lah Doni sendiri di sana memperbaiki mesin pompa. Tak lama kemudian, lewatlah
sepasang suami istri, Bu Tina dan Pak Dodo.
Bu Tina : Eh, Pak, itu si
Doni kan? Ngapain dia disana?
Pak Dodo : Eh iya, Bu. Oh
kalau tidak salah si Doni itu memperbaiki mesin masjid.
Bu Tina : Kok Doni sih
yang kerjain, Pak. Bisa-bisa makin rusak tuh mesinnya.
Pak Dodo : Ya... Bapak
ndak tahu. Pak RW pagi-pagi udah tawarin Doni itu, bukan tawarin bapak atau
yang lainnya yang jelas lebih berpengalaman.
Bu Tina : Ibu ndak
percaya sama Doni itu. Ga suka juga.
Pak Dodo : Bapak juga,
Bu.
Bu Tina : Pak, gimana
kalau kita usir saja Doni dari sini?
Pak Dodo : (terkejut) Gimana caranya, Bu?
Bu Tina : (bisik-bisik)
Pak Dodo : Ide yang
bagus, Bu!
Bu Tina : Ayo kita
lakukan, Pak le!
Bu
Tina dan Pak Dodo pun memulai rencana mereka. Mereka mengambil sebuah tape radio
yang ada di atas meja. Sepasang suami istri itu melakukannya diam-diam,
sehingga membuat Doni yang ada di dekat mesjid tidak menyadarinya. Tanpa mereka
semua sadari, isi kotak infaq yang ada di sana telah raib.
Pak RW : Don, sudah
selesai perbaikinya?
Doni : (sedikit terkejut) Eh, udah, Pak.
Tinggal di tes aja.
Pak RW : Baiklah, bapak
colokin ya. (pergi)
Pak
RW pun mencolokan colokan mesin pompa air, namun ia kaget sekali saat melihat
kotak infaq kosong dan tape radio tidak ada di sana.
Pak RW : Astaghfirullah!
Doni : (terkejut lalu berlari ke tempat Pak RW) Ada
apa pak?!
Pak RW : Uang di kotak
infaq dan tape hilang! (menunjuk tempat
barang yang hilang)
Doni : Ayo kita kejar
malingnya, Pak! (lari)
(SCENE 4)
Kejadian
hilangnya tape mesjid itu membuat heboh warga. Beberapa warga berkumpul di
sekitar mesjid. Warga desa disana hanya mengetahui kalau tape saja yang hilang,
sedangkan untuk uang infaq tidak. Hanya Pak RW, Doni, dan beberapa pengurus
mesjid yang mengetahuinya.
Pak Dodo : Sudah ketemu
malingnya, Pak?
Pak RW : (tertunduk lesu) Belum.
Pak Dodo : Kira-kira yang
ada di sekitar mesjid siapa saja, Pak? Bisa saja kan mereka yang ada di mesjid
yang maling.
Pak RW : Memang saat itu
yang ada di mesjid hanya Doni. Tapi, tidak mungkin kan yang maling itu Doni.
Bu Tina : Memang bapak
mengawasi Doni terus selama pekerjaannya?
Pak RW : Tidak. Saya
yakin, bukan Doni yang mencuri.
Doni : Ya Allah, Bu, Pak,
saya tidak pernah mencuri!
Mbok Jum : Iya. Si mbok
juga yakin kalau Doni itu ndak mencuri.
Bu Susan : Benar apa yang
dikatakan Mbok Jum itu, Bu Tina.
Pak Dodo : (keberatan) Maling mana ada yang
mengaku!
Bu Tina : Apa
jangan-jangan... Mbok Jum dengan Bu Susan bersekongkol ya dengan Doni?!
Mbok Jum : (marah) Bu Tina, jangan asal nuduh ya,
saya tidak pernah mencuri! Itu perbuatan keji!
Doni : (suara meninggi) Sudah Bu, Pak! Jangan
menuduh yang tidak ada bukti!
Bu Susan : Bu Tina, Pak
Dodo, kenapa anda ngotot sekali kalau yang maling adalah... Doni?
Pak Dodo : (gugup) K-karena, kami melihat Doni lagi
membawa tape! Ya Doni tadi membawa tape!
Doni : (keberatan) Saya tidak pernah melakukan
itu, Pak!
Bu Tina : Udah, kamu
ngaku aja, Don..
Mbok Jum : Bu Tina! Doni
kan sudah bilang kalau dia tidak–
Pak RW : (memotong pembicaraan) Sudah, sudah!
Jangan saling menuduh seperti ini! Doni, apa benar apa yang dikatakan mereka?
Doni : Tidak, Pak!
Pak RW : Nah, Pak Dodo,
jam berapa bapak dan ibu melihat Doni mengambil tape?
Bu Tina : Sekitar jam
lima, Pak... Tunggu, bapak mencurigai kami?!
Pak RW : Tergantung.
Bolehkah saya menggeledah rumah bapak?
Pak Dodo : (semakin gugup) T-tidak boleh seperti
itu lah, Pak!
Bu Susan : Geledah saja
rumah mereka, Pak RW. Kalau mereka tidak mau, berarti sudah pasti mereka
pelakunya. Terlebih kalau ada tape di sana.
Mbok Jum : Benar, Pak!
Geledah aja! Lalu panggil polisi!
Bu Tina : (takut-takut) Anu, Pak.... Sebenarnya...
Pak Dodo : (marah sambil menatap Bu Tina) IBU!
Bu Tina : Sebenarnya kami
yang mengambil tape itu, Pak! Tolong,
jangan laporkan kami ke polisi pak!
Pak Dodo : (marah) IBU!
Pak RW : (menghela napas) Baiklah, jangan lakukan
ini lagi, atau saya dan warga benar-benar akan memanggil polisi.
Doni : Benar kan, bukan
saya yang mencuri!
Bu Tina : Makasih, Pak!
Mbok Jum : (bergumam) Akhirnya Pak Dodo dan Bu Tina
mengaku juga.
Bu Susan : Nah, Pak RW,
masalah tape sudah selesai. Bagaimana dengan masalah uang infaq yang hilang?
Mbok Jum : (bingung) Loh, bukannya yang dihilang
hanya tape saja ya?
Bu Susan : (kaget) Eh?
Pak RW : (terkejut) Dari mana Bu Susan tahu kalau
uang infaq juga hilang?
Bu Susan : (gugup) I-itu...
Doni : (curiga) Apa... Bu Susan yang mengambil
duit infaq ya?
Bu Susan : B-Bukan! I-itu
fitnah! Mereka yang mengambil! (menunjuk
Pak Dodo dan Bu Tina).
Pak Dodo : Jangan asal
tuduh ya! Situ tuh yang ngambil duit!
Pak RW : Bu Susan, anda
tahu dari mana kalau duit infaq juga hilang? Info tentang itu hanya saya dan
beberapa orang pengurus mesjid yang mengetahuinya.
Bu Susan : (takut, menggigil) I-Itu... Tidak. Bukan
saya pencurinya!
Mbok Jum : Pak RW,
s-sebenarnya, s-saya melihat Bu Susan mengambil uang dari kotak... Begitu pula
dengan saya melihat Pak Dodo dan Bu Tina mengambil tape...
Bu Susan : (terkejut) TIDAK! ITU TIDAK BENAR!
Pak RW : Benarkah mbok?
Mbok Jum : Benar pak.
Untuk apa saya bohong. Lagipula angin ini mendengar, langit pun juga melihat,
Pak, begitu pula dengan Gusti Allah.
Bu Susan : (Ketakutan)
Pak RW : Baiklah, Bu
Susan, ayo ikut saya ke balai desa, biar warga yang menentukan nasib anda.
Bu Susan : Tidak! Saya tidak
mau!
Mbok Jum : Syukur ya,
Don. (menatap Doni)
Doni : I-iya, Mbok. (menggaruk kepala)
Pak RW : Doni, bantu saya
bawa bawa Bu Susan ke balai desa! (menggiring
Bu Susan)
Doni : Siap, Pak! (membantu Pak RW)
Akhirnya, pencuri tape dan uang infaq
berhasil ditemukan. Bu Susan yang menjadi tersangka pun akhirnya diadili oleh
warga desa. Akhirnya, keamanan desa bisa terjaga kembali. Ingatlah, apapun yang
kita lakukan akan diketahui, karena angin mendengar, langit pun mengetahui. Tetap
jagalah keamanan disekitar, baik lingkungan rumah, masyarakat maupun negara
Indonesia ini.
-END-
http://putputput-lalala.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment